Subscribe Us

Header Ads

Wah, Bapak Pramuka Indonesia pertama ternyata seorang Sultan oleh - seputarwine.xyz

Halo sahabat selamat datang di website seputarwine.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Wah, Bapak Pramuka Indonesia pertama ternyata seorang Sultan, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Tahukah kamu siapa Bapak Pramuka Indonesia pertama? Ternyata adalah seorang Sultan.

Yup, Bapak Pramuka Indonesia pertama adalah Sri Sultan Hamengkubuwana IX atau Gusti Raden Mas Dorodjatun. Sejak usia muda, dirinya telah aktif dalam organisasi pendidikan kepanduan, yang merupakan cikal bakal Pramuka di Indonesia.

Baca juga: 14 Agustus dan film-film bertema Pramuka, menarik buat referensi

Menjelang tahun 1960-an, Hamengkubuwana IX telah menjadi Pandu Agung (Pemimpin Kepanduan). Pada tahun 1961, ketika berbagai organisasi kepanduan di Indonesia berusaha disatukan dalam satu wadah, Sri Sultan Hamengkubuwana IX memiliki peran penting di dalamnya.

Kala itu, Presiden RI Sukarno, juga berulang kali berkonsultasi dengan Sri Sultan tentang penyatuan organisasi kepanduan, pendirian Gerakan Pramuka, dan pengembangannya.

Sri Sultan Hamengkubowono IX

Sejarah panjang Pramuka di zaman kolonial

Pramuka yang kita kenal sekarang mungkin terlihat jauh berbeda dengan kenyataan sejarah mengenai bagaimana kuatnya gerakan tersebut untuk memperkuat pondasi bangsa sejak zaman kolonial.

Jauh sebelum adanya Pramuka, gerakan ini dinamakan gerakan Kepaduan. Di dunia internasional juga ada dan dikenal dengan sebutan Scout atau Scout Movement.

Gerakan Kepaduan ini awalnya dicetuskan oleh seorang letnan satu umum di angkatan darat tentara Inggris. Dia adalah Letnan Jendral Robert Stepnhenson Smyth Baden-Powell, atau sering disebut Baden-Powell.

Gerakan ini kemudian menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Ketika di Indonesia, masyarakat mengenalnya dengan Pramuka setelah disahkan oleh Keputusan Presiden RI Nomor 238 Tahun 1961.

Namun jauh sebelum itu, sebenarnya cikal bakal Pramuka sudah ada di Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda tahun 1923. Belanda mendirikan Nationale Padvinderij Organisatie (NPO) di Bandung.

Pada tahun yang sama, di Jakarta, Belanda juga mendirikan Jong Indonesische Padvinderij Organisatie (JIPO), dikutip dari berbagai sumber.

Kedua organisasi tersebut kemudian meleburkan diri menjadi satu, bernama Indonesische Nationale Padvinderij Organisatie (INPO) di Bandung pada tahun 1926.

Selanjutnya, antara 1928-1935 bermuncullah gerakan kepanduan Indonesia baik yang bernapas utama kebangsaan maupun bernapas agama.

kepanduan yang bernapas kebangsaan antara lain adalah Pandu Indonesia (PI), Padvinders Organisatie Pasundan (POP), Pandu Kesultanan (PK), Sinar Pandu Kita (SPK) dan Kepanduan Rakyat Indonesia (KRI).

Sedangkan yang bernapas agama Pandu Ansor, Al Wathoni, Hizbul Wathan, Kepanduan Islam Indonesia (KII), Islamitische Padvinders Organisatie (IPO), Tri Darma (Kristen), Kepanduan Asas Katolik Indonesia (KAKI), Kepanduan Masehi Indonesia (KMI).

Seiring waktu, gerakan-gerakan kepanduan yang berbasis pada latar belakang kebangsaan maupun keagamaan melebur menjadi satu gerakan besar, yaitu Gerakan Pramuka pada 1961.

Pada tahun yang sama, tepatnya pada 14 Agustus 1961, dilangsungkan acara pelantikan pengurus Gerakan Pramuka Indonesia sekaligus mensosialisasikan gerakan ini kepada suluruh rakyat Indonesia. Hari tersebut kemudian dikenal dengan Hari Pramuka Indonesia.

Arti lambang gerakan Pramuka

Mungkin banyak yang tak asing dengan lambang Pramuka. Lambang Pramuka diwakili dengan Buah kelapa yang masih tunas atau dalam keadaan tumbuh dinamakan cikal.

Lambang pramuka ini mengandung arti inti bagi kelangsungan hidup bangsa (tunas penerus bangsa). Buah kelapa juga tahan lama yang mengandung arti bahwa Pramuka adalah orang yang jasmani dan rohaninya kuat dan ulet.

Selain itu kelapa dapat tumbuh di berbagai jenis tanah. Artinya, Pramuka adalah orang yang mampu beradaptasi dalam kondisi apapun. Kelapa juga mampu menjulang tinggi. Artinya bahwa setiap Pramuka memiliki cita-cita yang tinggi.

Terakhir, kelapa punya akar yang kuat. Artinya, bahwa Pramuka berpegang pada dasar-dasar yang kuat. Kelapa juga pohon yang serbaguna, artinya bahwa Pramuka berguna bagi nusa, bangsa dan agama.

Itulah tadi informasi mengenai Wah, Bapak Pramuka Indonesia pertama ternyata seorang Sultan dan sekianlah artikel dari kami seputarwine.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Post a Comment

0 Comments